Malam, Persimpangan, bersama Dona Dona

Jalan terbaik menuju kebenaran adalah kejujuran yang menyakitkan.

Kian diungkap, kian menyayat.

Waktu membuktikan perannya. Kekuatan aneh dari Dewata merasuki fisik dan kalbu. Seolah berkata, “Ini saatnya. Sudah waktunya,”

Kasih sayang yang terajut membuatnya tak kuasa menahan sedih.

Semakin ia berkata sayang, semakin sesak. Semakin ia menggenggam tangan, semakin ingin berisak.

Dona-Dona, bukan alasan, tapi jawaban. Larut. Semakin tangis tak kuasa untuk diam ditempatnya. Pahit saat tahu rasa sayang itu utuh dan harus terpaksa pergi.

IMG_20181011_204438.jpg
Malam usai pulang dari Menteng – Rachma Amali
Advertisements

Egoisme Malam.

Urat di lehernya terasa sakit. Menahan hembusan nafas yang sangat berat. Punggungnya sudah mau ambruk. Bahkan tulang belakangnya terasa ingin patah.

Sementara angin malam tak hentinya berhembus. Dingin.

Hipotermia di iklim tropis rasanya tak masuk akal. Seperti logika, realita, dan mimpi yang bersinggungan.

Waktu memang Sang Maha Adil. Bagiku yang sedang sekarat, aku sangat menanti kapan sekiranya aku bisa menghirup udara segar yang sesungguhnya.

 

Amen.

 

Ilustrasi Gambar: “Egoisme Malam” – Rachma Amalia

“Jenderal” Boneng & Wedang Kembang Tahu: Kejenakaan Jajanan Pinggir Jalan.

Di pertigaan jalan perumahan, terlihat pria bertubuh tambun berdiri tegap menghadap sebuah mikrolet (angkutan kota) jurusan Perumnas Klender-Kampung Melayu yang sedang melintas. Sambil memasang sikap hormat, ia berteriak lantang menggelegar, “HORMAT GERAK! Jangan ngebut, beli dulu sini kembang tahu(nya)! hehahaha”. Sambil geleng-geleng kepala, sang supir mikrolet pun hanya tertawa dan berlalu pergi meninggalkan Jenderal Boneng dan pikulan wedang kembang tahu dagangannya.

Hari itu, sekitar pukul lima sore, Rudi Salam atau yang biasa dikenal sebagai Jenderal Boneng sedang siap siaga berdinas. Salah satu pertigaan Komplek Cipinang Elok, Jakarta Timur, merupakan tempat biasanya ia bertugas. Sesekali ia duduk, sesekali pula ia mondar-mandir sambil memantau HT (Handy Talkie/Walkie Talkie) silver dari botol bekas miliknya -lengkap dengan antenanya yang terbuat dari antena radio sepanjang satu meter lebih. Sebagai seorang “jenderal”, ia tak ingin kecolongan. Visi dan misinya tetap sama: wedang kembang tahunya harus laku.

Sang jenderal kembang tahu, yang mengaku berumur 17 tahun ini, adalah jenderal yang teladan. Ia mengenakan seragam TNI Angkatan Darat bermotif loreng lengkap dengan helm TNI berwarna silver berbalut ranting-ranting dan dedaunan. Atribut lainnya seperti lencana, syal merah, holster pistol di pinggang, dan sepatu boots hitam juga lengkap ia kenakan.

HT Jenderal Boneng - Sucipto
ilustrasi gambar: “HT Jenderal Boneng” – Sucipto Cokro

Walau, sebenarnya kegiatan berdagang wedang kembang tahu sudah ia tekuni sejak 1980-an, namun baru di tahun 2000, petualangan Boneng (54) sebagai jenderal dimulai. Sejak saat itu ia bertekad dan memberanikan diri untuk menjajakan jajanan hangat itu dengan cara yang unik sekaligus dapat menghibur banyak orang.

Selain kostum tentara bermotif loreng, ayah satu orang putri ini juga punya kostum-kostum lain yang ia pakai berbeda-beda setiap harinya. Dari mulai kostum TNI AU, polisi, koboy, hingga ala pejabat lengkap dengan dasi dan jas ia kenakan. Khusus di hari Jumat, ia mengenakan kostum yang menurutnya spesial. Di hari agung itu, Boneng khusus mengenakan baju koko dilengkapi kopiah dan sorban yang diikat di leher.

Kerap kali menjadi tontonan dan bahan ledekan orang-orang, hal itu tak lantas membuatnya kecil hati. Sang jenderal justru senang, karena dengan begitu, orang-orang mudah mengenali dirinya. Tak jarang, pesona Jenderal Boneng kini sudah merambah hingga ke media-media nasional. Ia pun sudah terbiasa menghadapi berbagai orang yang bertanya-tanya akan hal ‘konyol’ yang ia lakukan itu.

Wedang kembang tahu adalah salah satu penganan tradisional yang disajikan dengan kuah/wedang jahe hangat. Jajanan penghangat suhu tubuh ini terbuat dari fermentasi susu kedelai yang dicampur dengan air garam dan bubuk agar-agar. Hasilnya yang kenyal, membuatnya nampak mirip dengan tahu putih. Sehingga orang-orang menyebutnya sebagai kembang tahu. Namun, seiring berjalannya waktu, jajanan ini justru jarang ditemui, terutama di kota besar seperti Jakarta.

Takdir Boneng untuk menjadi seorang ‘Jenderal’ memang tepat. Ia telah menjadi pahlawan bagi penganan itu. Karena dengan jiwa pantang menyerahnya, Boneng telah berusaha mempertahankan eksistensi salah satu jajanan pinggir jalan yang kini justru sulit ditemui.

Prakarsa dan Ikhtiar Membangun Tana Tidung*

Merupakan salah satu daerah pemekaran, perjuangan untuk membangun Kabupaten Tana Tidung menjadi daerah yang maju dari berbagai macam aspek pun tentu tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Butuh waktu bertahun-tahun serta banyaknya rintangan yang harus dihadapi oleh satu dari lima kabupaten di Provinsi Kalimantan Utara ini.

Ialah Bupati Kabupaten Tana Tidung Dr. H. Undunsyah, sosok yang memprakarsai terbentuknya Kabupaten Tana Tidung. Di tahun 2002, ia bersama para tokoh masyarakat Bulungan mendeklarasikan pembentukan Kabupaten Tana Tidung sebagai Daerah Otonom Baru (DOB). Kala itu, Undunsyah sedang menjalani masa studi magisternya di Universitas Brawijaya dan masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kota Tarakan. Dilansir dari buku autobiografinya yang berjudul Mata Hati, Kata Hati: Esensi Kepemimpinan Dr. H. Undunsyah, M.H, M.M., ia mengatakan,”Usaha kami dalam memperjuangkan Kabupaten Tana Tidung sebagai DOB bukanlah tanpa halangan dan rintangan. Ada saja kendala yang kami temukan saat itu.”

Karena tekad yang amat kuat, segala rintangan pun akhirnya terbuktikan seiring bejalannya waktu. Proses memang tidak membohongi hasil. Pada sidang paripurna ke-4 tahun 2007, DPR RI resmi menetapkan Kabupaten Tana Tidung sebagai kabupaten baru. Hingga di tahun 2009, Undunsyah pun memenangkan pilkada dan menjabat sebagai bupati definitif pertama di Kabupaten Tana Tidung dengan masa jabatan 2010-2015.

Lima tahun masa kepemimpinan nyatanya tak cukup bagi Undunsyah untuk membangun Kabupaten Tana Tidung. Desember 2015, ia bersama Markus Yungkin kembali terpilih sebagai pasangan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Tana Tidung untuk periode 2016-2021.

Kini, di sisa masa jabatan yang terhitung kurang lebih tiga tahun lagi, ia beserta pemerintah daerah Kabupaten Tana Tidung sedang memaksimalkan upaya pembangunan infrastruktur, sarana serta prasarana, dan optimalisasi di segala aspek. Hal tersebut tentunya agar pemda dapat terus memberikan pelayanan terbaik bagi warga Kabupaten Tana Tidung.

Penyelesaian Pembangunan Infrastruktur

“Selamat Datang di Tideng Pale Kabupaten Tana Tidung.” Kalimat itulah yang terlihat di Pelabuhan Tideng Pale, Kabupaten Tana Tidung (KTT). Walau ukurannya yang tak seluas pelabuhan pada umumnya, namun pelabuhan ini merupakan salah satu pelabuhan tersibuk di KTT. Terletak di Tideng Pale, ibukota Kabupaten Tana Tidung, Pelabuhan Tideng Pale juga merupakan akses masuk utama di KTT.

Sekitar 180 meter dari Pelabuhan Tideng Pale, terdapat Kantor Bupati Kabupaten Tana Tidung. Berdiri tegak menghadap sungai Sesayap, di gedung inilah pusat pemerintahan di KTT berjalan. Ditemui di kantornya, Undunsyah menyampaikan jika saat ini ia dan pemda KTT masih melanjutkan program pembangunan dari periode sebelumnya, terutama pembangunan infrastruktur. “Sebenarnya kan kita, Kabupaten Tana Tidung umumnya, saya ini hanya melanjutkan program saya di periode pertama, melanjutkan itu infrastruktur yang belum selesai,” ungkapnya.

Pembangunan Jalan Poros merupakan salah satu pembangunan infrastruktur yang sangat vital di KTT. Jalan Poros ini membentang dan mengikat empat kecamatan dari Kecamatan Sesayap, Sesayap Hilir, Muruk Rian, hingga Tana Lia. Merupakan proyek jalan lurus terpanjang se-Kalimantan Timur dan Utara, akses transportasi darat ini menelan Anggran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) hingga ratusan miliar rupiah.

Jalan Poros pertama kali dibangun pada 2016. “Kita target semua desa menuju ke jalan poros, jalan poros itu panjangnya itu ada 96 Km, yang lurus dan segala macem, lebarnya sekitar 60 m, itu yang akan kita selesaikan sepanjang masa jabatan kedua,” jelasnya. Jalan ini juga merupakan akses utama transportasi dan dapat menjadi penunjang ekonomi di KTT. Tak hanya itu, dengan adanya Jalan Poros, memudahkan akses untuk menuju dua pelabuhan baru yaitu Pelabuhan Sebawa dan Pelabuhan Bebatu.

Selain pembangunan infrastruktur jalan, dalam buku autobiografi atau yang bisa juga disebut sebagai catatan perjalanan hidup Undunsyah, ia mengatakan di lima tahun pemerintahannya, ia pun lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur yang mencakup akses pendidkan, kesehatan, listrik, dan air bersih. Sempat menjadi Dekan di Universitas Borneo Tarakan 13 tahun lalu dan masih aktif mengajar sebagai dosen pula di Universitas Mulawarman Samarinda, membuat Undunsyah tak bisa lepas dari dinamika dunia pendidikan. Kini, untuk akses pendidkan, KTT kini sudah memiliki tiga sekolah terpadu di tingkat TK/SD di Kecamatan Tana Lia, dan SD/SMP serta SMP/SMA di Kecamatan Sesayap.

Dibangun sejak 2014, sekolah terpadu tersebut masih terus ditingkatkan dari segi sarana dan prasarananya. Sekolah terpadu yang ada di KTT merupakan sekolah unggulan dengan sistem boarding school. Walau sistem boarding school tersebut masih dalam tahap optimalisasi, namun Undunsyah mennyatakan bahwa tahun 2019 sistem tersebut sudah bisa diterapkan. Segala pembangunan fasilitas untuk sekolah terpadu tersebut pun ditargetkan rampung pada 2020.

Untuk saat ini, sekolah terpadu tersebut memiliki gedung yang megah dan nyaman bagi para siswa dalam menjalani kegiatan belajar mengajar. Terdapat pula mess untuk guru, lapangan, laboratorium, dan tempat ibadah. Untuk sekolah terpadu yang berada di Kecamatan Sesayap, lokasinya masih satu komplek dengan kantor Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Tana Tidung.

Dari segi kesehatan, saat ini sedang dibangun pula Rumah Sakit Tipe C. “Rumah sakit tipe C yang akan kita garap secara maksimal,” ungkap Undunsyah. Rumah Sakit Tipe C adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan kedokteran subspesialis terbatas. Paling sedikit, harus ada empat Pelayanan Medik Spesialis Dasar serta empat Pelayanan Spesialis Penunjang Medik. Untuk di KTT sendiri, Rumah Sakit Tipe C ini direncanakan Undunsyah akan rampung dan bisa digunakan pada 2019. “Ini juga semua akan kita akhiri pada masa jabatan yang ke dua ini. 2019 sudah bisa digunakan,” paparnya.

Sungai Sebagai Salah Satu Pusat Perekonomian di KTT - Rachma Amalia
Foto: “Sungai Sebagai Salah Satu Pusat Perekonomian di KTT” – Rachma Amalia

Optimalisasi Pariwisata dan Ekonomi Masyarakat

Masih didominisai dengan keadaan alam yang asri, KTT juga memiliki destinasi pariwisata. Kawasan wisata yang terkenal di KTT antara lain Gunung Rian, Batu Mapan, dan kawasan Mangrove. Gunung Rian menjadi salah satu destinasi wisata yang paling terkenal di KTT. Di sana terdapat Air Terjun Rian yang terletak di kaki Gunung Rian, Kampung Rian, Kecamatan Sesayap. Menyajikan eksotisme hutan hujan tropis khas kalimantan dan segarnya air terjun yang masih belum terjamah banyak orang, membuat Air Terjun Rian menyimpan pesonanya sendiri untuk dikunjungi.

Menanggapi potensi wisata alam yang ada di KTT, Undunsyah justru mengatakan bahwa saat ini destinasi wisata di KTT masih menuju proses optimalisasi. Sebab, kawasan tersebut merupakan kawasan budidaya kehutanan. “Jadi ada beberapa tempat wisata yang bisa kita publikasi sih, tetapi ini belum dapat kita optimalkan karena kendalanya itu adalah karena kawasan budidaya kehutanan,” paparnya.

Selain itu, masih terdapat sejumlah polemik yang menghambat terciptanya kawasan wisata yang optimal dari segi infrastruktur maupun promosi. Adanya penguasaan lahan dan konsesi dari PT. Atindo di kawasan tersebut juga masih harus diselesaikan. “konsensi PT. Adindo, jadi kita harus clean & clear dulu dengan mereka. Jadi masih ada urusan lain dengan pihak ketiga. Makanya kita tidak bisa mengoptimalkan sebagai wisata alam,” jelas Undunsyah.

Disamping itu, kendala keuangan yang dimiliki oleh pemerintah kabupaten untuk mengoptimalisasi kawasan tersebut sebagai destinasi wisata, menjadi hambatan dan tantangan tersendiri bagi KTT. Undunsyah mengungkapkan bahwa memang terdapat dana bantuan dari Kementerian Pariwisata. Namun hal itu tidak bisa secara signifikan membantu proses keseluruhan dari optimalisasi daerah wisata di KTT tersebut.

“Kita ada bantuan dari kementerian (pariwisata), tetapi tidak signifikan, paling banyak 2-3 Miliar. Sedangkan ini dikelola hingga ratusan miliar kalau mau dijadikan wisata alam, Karena di sana ada pohon yang hampir ratusan tahun dan sangat besar dan kita harus lestarikan. Tetapi untuk mengoptimalkan ini membutuhkan dana yang besar baru bisa menjadi kawasan wisata (alam) yang baik,” jelasnya.

Hal yang terjadi pada sektor pariwisata KTT tak lantas membuat ia patah arang. Baginya, masih ada jalan lain untuk membangun KTT, terutama dari segi potensi untuk perekonomian dan fasilitas daerah. Untuk itu, ia kini lebih fokus untuk mengoptimalisasikan penyediaan fasilitas, infrastruktur, serta pelayanan publik.

Tantangan selanjutnya adalah masalah sosial dan ekonomi. Saat ini ia beserta pemda KTT tengah berupaya untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran yang ada di KTT. “Alhamdulillah di sini kami ada beberpa perusahaan-perusahaan, sehingga masyarakat yang mau bekerja ini hampir sebagian besar tertampung oleh perusahaan,” ungkapnya. Sektor terbesar perekonomian di KTT adalah industri kelapa sawit.

Tak hanya itu, sebagian besar penduduk KTT juga memilih untuk berwirausaha. Untuk itu, Undunsyah beserta pemda KTT juga berencana membangun pasar modern. “Kita membangun, sampai tahun 2020, kita membangun pasar modern 2-3 lantai. Jadi nanti bisa menampung semua pedagang-pedagang kecil, menengah,” paparnya. Selain pasar modern, akan dibangun pula UKL yang dekat dengan Pelabuhan Tidung Pale. “Itu yang akan kita fungsikan siang dan malam. Dekat dengan sungai, jadi akan kita bangun tahun ini. Tahun 2020 atau 2019 sudah bisa digunakan,” jelasnya

Undunsyah beserta pemda setempat terus berikhtiar untuk pembangunan KTT. Ia berharap agar seluruh program kerjanya dapat terselesaikan dengan baik hingga batas akhir masa baktinya sebagai bupati KTT. “Harapan saya, 9 program kerja saya dan 18 kegiatan itu bisa dapat tuntas sampai batas sumbangsih saya pada 2021 nanti,” pungkasnya. Mengutip dari bukunya, Undunsyah juga mengungkapkan bahwa impiannya adalah terbangunnya KTT yang modern dan sejahtera. (RA)

*Artikel ini pernah diterbitkan di Majalah G-Priority Edisi Mei 2018

/ter.la.lu/

Terlalu banyak ajakan
Terlalu banyak suruhan
Terlalu banyak tekanan
Terlalu banyak aturan 

Terlalu banyak tuntutan
Terlalu banyak perbandingan 

Terlalu sempit ruang
Terlalu sempit jarak
Terlalu sempit waktu
Terlalu sempit pikiran 

Terlalu sialan hidup ini

ilustrasi gambar: “Pasar Manis Malam Hari” – Rachma Amalia

Belajar Mengenal Goresan Indah di KamiSketsa Galnas*

Sketsa adalah salah satu karya seni dimana terdapat goresan-goresan indah sebuah pensil maupun tinta. Kini, sketsa tidak hanya bisa dilakukan oleh para pelaku seni profesional. Melalui KamiSketsa Galeri Nasional Indonesia, para penikmat, bahkan orang awam pun, bisa terlibat langsung untuk belajar membuat sketsa.

Kegiatan yang dimulai sejak 19 Oktober 2017 ini, memfasilitasi masyarakat yang mempunyai ketertarikan terhadap karya seni –khususnya di bidang sketsa. Dalam kegiatan yang rutin diadakan setiap hari Kamis ini, Galeri Nasional Indonesia juga melibatkan beberapa seniman seperti Toto BS, Daniel Nugraha, dan Ipe Ma’aruf untuk bebagi pengetahuan dan pengalaman seputar dunia sketsa kepada para peserta.

Workshop KamiSketsa Galnas
ilustrasi gambar: “Pameran KamiSketsa Galnas Des 2017” – Dokumentasi Galeri Nasional Indonesia

Setiap peserta dibebaskan untuk membuat sketsa. Tak perlu repot, dalam praktiknya, peserta dapat memanfaatkan fasilitas seperti spidol, pensil, tinta cina, dan kertas beserta papan alas yang sudah tersedia.

Kegiatan yang telah berjalan selama kurang-lebih tiga bulan ini, sudah menghasilkan banyak karya. Untuk mengapresiasikannya, pihak Galeri Nasional Indonesia pun memajang karya-karya tersebut dalam sebuah pameran pada 14-21 Desember 2017 lalu. Tidak cukup sampai di situ, kegiatan KamiSketsa pun semakin berkembang dengan adanya edisi on the spot, dimana para peserta diajak untuk membuat sketsa di beberapa tempat bersejarah.

*Artikel ini pernah diterbitkan di teen.co.id

Mendua.

Apakah manusia baru benar-benar menyesal ketika ia mulai kehilangan orang yang mulai “tergantikan”?

Sering kali aku mendua.

Menduakan waktu.

Aku menduakan waktu curhatu pada Tuhan dengan hal-hal yang kuanggap lebih penting. Aku juga menduakan harapan keluargaku dengan menunda waktu mengerjakan skripsiku.

Lalu, apa lagi?

Andai aku tahu, sebelum nenekku pergi ke rumah Tuhan, dia selalu menunggu dalam rindu. Berharap teman curhatnya segera pulang di samping ranjangnya.

Aku menduakan kerinduannya.
Lalu, aku menyesal..

Ketika memang kasih seutuhnya adalah bukan perjuangan sendirian. Ternyata, aku membiarkan mereka berjuang sendirian. Aku tak pernah tahu apakah mereka akan lelah atau tidak. Namun, diri ini rasanya tak sanggup untuk bertanya atau memohon agar mereka tetap berjuang untukku.
Terlalu menyakitkan..

Mimpi terlalu nyaman untuk dijelajahi. Di balik itu semua, sampai-sampai (terkadang) kita lupa ada orang-orang yang berjuang dengan ketulusan kasihnya.

ilustrasi gambar: “Mendua di Semarang” – Rachma Amalia

Babi [Part I]

Malam ini aku bertemu seekor babi dan 2 pengantin baru.
Si babi bekerja ekstra. Seolah sendirian. Ia terus memilah kayu bakar.

Aku tahu dia adalah babi yang memiliki rupa nan menjijikan.
Tapi aku tak punya hak untuk tidak membantunya. Ku pikir dia pekerja keras, walau kadang dia terlalu lugu -atau mungkin bisa dibilang BODOH.

Karena aku tahu, yang pantas jadi babi (ternyata) adalah 2 pengantin yang tengah sibuk berbulan madu.
Mereka sangat picik!

ilustrasi gambar: “Bunga Babi” – Rachma Amalia

Ikan Asin Bodoh.

Kali ini aku benar-benar meminta, lebih tepatnya sedikit memaksa,

“Berikan aku hari itu. Hari dimana aku benar-benar menyelam hingga dasar laut.”

Aku cuma ingin pulang kampung.

Lama-lama aku jadi ikan asin jika terus berada di sini. Berkecipak-kecipuk di pantai. Sementara manusia itu sedang menikmati angin di atas bukit sana. Rasanya ingin sekali teriak,

“Kamu sedang menikmati angin atau larut terbawa arus angin?!!”

Kira-kira seperti itulah yang aku lihat dari sini. Dan aku masih di pantai seperti ikan asin. Semakin lama aku di sini, aku akan siap dikemas dalam plastik dan jadi makan malam manusia. 

Dewa trisula menancapkan ujung tongkatnya tiba-tiba. Membelah kedua rongga rusukku.

“Bagaimana bisa kau sampai ke dasar samudera? Kau saja masih sibuk menoleh terus ke arah pegunungan. Takut manusia kesayanganmu itu terpeleset ke jurang!”

Kagetku tak tertahankan. Buka karena kemunculannya yang tiba-tiba. Bukan pula karena trisulanya yang kini menancap di dadaku.

Namun, aku terkhenyak, saat aku sadar bahwa: aku telah memaksa untuk meminta sesuatu yag jelas-jelas aku sendiri yang menundanya…

ilustrasi: “Ikan Asin Bodoh” – Rachma Amalia

Joy dan Hutan Pinus.

Kali ini Joy harus memutuskan: berjalan terus di rute beraspal atau kabur ke hutan pinus.
Sama saja memilih untuk menjadi bosan atau bersabar.
“Tinggal 30 menit lagi,” kata Tuhan.

Rute beraspal seperti menikmati dirinya sendiri. Orang -orang sudah terlalu akrab karena, hanya lewat situ, kendaraan dengan mudah melintas dan menikmati setiap meternya.

“15 menit lagi..” singgung Tuhan.

Jujur saja, Joy lumayan lelah karena sering kali ia dehidrasi. Rute beraspal sering kali menyempitkan pandangannya, hingga Joy berpikir tujuannya serasa jauh.

“9 menit lagi,” dan Tuhan masih sabar.

hutan pinus-Rachma Amalia
ilustrasi: “Hutan Pinus”-Rachma Amalia

Joy mencintai hutan pinus.

Aku pernah terkesima mendengar cerita Joy yang mengaku bahwa ia lahir dari rahim pohon pinus bernama Valen. Syukurlah, ayahnya masih manusia, bukan alien.

Cinta yang terpendam sejak lama. Joy ingin tenggelam dalam hutan pinus dan menikmati setiap incinya.

“5 menit lagi,” Tuhan sekadar mengingatkan.

Badan Joy mulai gemetar. Air pun keluar dari kelopak matanya.

Buyar!

Joy merasa rute beraspal terlalu sibuk membangun dirinya sendiri. Di sisi lain, Joy khawatir pada rute beraspal dan dirinya sendiri.

Hutan pinus semakin membuat Joy ingin menjelajahinya lebih dalam. Kunang-kunang pelangi melihat dari balik pohon pinus.

Tapi Joy masih saja terkurung pada rasa khawatirnya.

Joy takut terlena dan tak dapat bertemu lagi dengan rute beraspal.

Mendengar cerita Joy, aku kasihan.

“Yakinlah, hutan itu jaraknya takkan jauh dari rute beraspal. Aku rasa tidak ada salahnya berjalan melalui hutan pinus, jika itu memang dibuat khusus untukmu.”
Joy tersenyum. Malam itu, tepat di hari ulang tahunku, ia melangkah masuk ke hutan pinus. Dari kejauhan mulutnya berbisik, “Selamat menua…”

Create your website at WordPress.com
Get started